NSK Nugroho Professional Hypnotherapy Site

...Empowering Your Daily Life!

  • Perbesar ukuran huruf
  • Ukuran huruf bawaan asli
  • Perkecil ukuran huruf
Home Hypno Articles Hypno-Love Disfungsi Ereksi Akibat Konflik Internal

Disfungsi Ereksi Akibat Konflik Internal

E-mail Cetak PDF

Disfungsi Ereksi Akibat Konflik Internal

Pernahkan anda mengalami suatu kondisi dimana anda seakan berada di suatu persimpangan jalan yang membingungkan? Sebagian dari diri anda mengajak untuk mengambil jalan ke kanan sementara sebagian diri anda yg lain mengajak untuk mengambil jalan yang kiri. Bahkan ketika anda sudah memutuskan untuk mengambil jalan ke kiri pun sebagian diri anda yang lain masih dengan kuat menarik-narik anda untuk kembali ke persimpangan dan kemudian mengajak anda untuk mengambil jalan ke kanan. Pernah….?

Saya yakin kita semua pasti pernah merasakannya. Lantas, apabila kita semua sudah pernah merasakannya, apa pentingnya pertanyaan saya di atas?

Mari saya jelaskan : ternyata, dalam kasus-kasus tertentu, kondisi seperti di atas bisa  mengakibatkan suatu efek pada diri kita yang kadang berada di luar dugaan. Dan tidak jarang efek ini bisa sangat mengganggu kita dalam kehidupan sehari-hari. Begitu? Yap…sebagai terapis saya punya pengalaman menghadapi kasus seperti ini ketika menangani seorang klien dalam sebuah sesi hypnoterapi.

Sebut saja namanya Hendrik, umur 27 tahun, masih bujangan. Suatu siang setelah membuat janji melalui telepon ia menemui saya di kantor untuk melakukan Hypnotherapy untuk membantu menyelesaikan masalahnya. Ia datang sendiri dengan wajah malu-malu sambil berusaha menyembunyikan suatu kecemasan yang nampak jelas di wajahnya.

Setelah berbasa-basi sejenak, mulailah ia bercerita seputar keluhannya. Dan menurut pengakuan Hendrik, ia merasa bahwa ia mendapat penyakit Disfungsi Ereksi alias DE secara mendadak. Menurutnya, penyakit ini muncul begitu saja setelah ia pulang dari acara perkemahan yang diadakan di Waduk Kedung Ombo.

Untuk menyembuhkan penyakitnya ini, Ia telah mengupayakan pengobatan secara medis.  Namun menurutnya, ia sama sekali tidak mendapatkan hasil yang memuaskan. Bahkan ketika ia juga diterapi dengan metode rukyah syari’ah. Kesembuhan yang dirasakannya setelah terapi rukyah syari'ah ini, hanya bertahan selama seminggu. Ia merasa bingung dan frustasi menghadapi masa depannya apalagi rencana berumah tangga pun juga sudah dekat.

Setelah melewati proses dialog yang panjang dan juga pemberian pemahaman apa itu hypnosis dan apa pula hypnoterapi, kami sepakat untuk menggunakan metode hypnoterapi untuk menangani keluhannya. Segera setelah semuanya siap, Hendrik saya bimbing dengan teknik-teknik hypnosis untuk melakukan relaksasi sampai mencapai kondisi trance yang diperlukan, untuk kemudian menemukan sumber masalahnya dan menyelesaikannya.

Kurang lebih inilah sebagian dari dialog perbincangan kami :

Budhi : Mas Hendrik, saya akan bertanya kepada pikiran bawah sadar anda dan tolong dijawab dengan jujur. Sebenarnya apa yang Mas Hendrik rasakan sekarang?

Hendrik : (Kelopak mata tertutup)...Saya merasa menderita penyakit disfungsi ereksi (DE).

Budhi : Apakah perasaan tersebut betul-betul muncul sekarang ini?

Hendrik : Ya..sangat terasa.

Budhi : Sekarang saya ingin Mas Hendrik ingat-ingat lagi pernahkah perasaan tersebut muncul sebelum ini ?

Hendrik : Pernah sewaktu sepulang dari kegiatan perkemahan di Waduk Kedung Ombo.

Budhi : Lebih dalam lagi Mas Hendrik..diingat-ingat lagi mungkin perasaan serupa pernah muncul sebelumnya?

Hendrik : (Terlihat kelopak matanya yang terpejam berkedut –kedut dan sambil menarik nafas yang panjang ia menjawab) Ya…sehabis saya dimarahi calon istri saya.

Budhi : Bisakah Mas Hendrik menceritakan apa yang terjadi saat itu?

Hendrik : Pacar saya (=calon istrinya.(red)) marah besar karena saya lama tidak menelpon dia dan tidak main ke rumahnya.

Budhi : Bagaimana perasaan Mas Hendrik saat itu?

Hendrik : Saya bingung….kesal….dan takut kehilangan dia.

Budhi : Apa yang membuat Mas Hendrik bingung dan kesal?

Hendrik : (Matanya kembali berkedut-kedut dan sikapnya menjadi gelisah. Tiba-tiba saja ia berbicara panjang lebar seakan ingin menumpahkan kegelisahannya selama ini). Saya bingung…, saya orang awam dalam agama..saya punya kelompok pengajian. Saya didoktrin bahwa pacaran itu tidak boleh, itu tindakan mendekati zina. Saya tahu memang ada dalil itu…tapi saya masih sering bertanya-tanya..apa mungkin orang menikah tanpa pacaran dulu. Dari tidak kenal sama sekali terus tiba-tiba menikah.

Saya juga ingin menikah tetapi dengan orang awam dulu saja kemudian baru bersama-sama belajar agama. Saya kesal sekali...saya tidak mungkin membawa pendapat saya ini ke kelompok pengajian saya...saya pasti kalah dalilnya. Saya berusaha meski pacaran saya tidak neko-neko…bahkan saya jarang berkomunikasi dengannya tapi akibatnya pacar saya marah besar…dan saya takut dia akan memutuskan saya.

(Dia diam sementara terus melanjutkan lagi bicaranya setelah menarik napas panjang).

Saya sudah terlanjur mencintainya dan pengin menikahinya segera.

Budhi : (Aha!……ini dia akar masalahnya!) Mas Hendrik….menurut Mas Hendrik apa respon teman-teman pengajian anda ketika mengetahui masalah ini?

Hendrik : Teman-teman pasti marah kalau mengetahui saya berpacaran. Saya pasti dikatakan mendekati zina…tergoda wanita…terbujuk setan…dan lain-lainnya. Saya tahu pendapat teman-teman saya itu benar tapi saya kan juga tidak neko-neko pacarannya…

Budhi : Jadi menurut Mas Hendrik bagaimana pendapat temannya dan pendapat Mas Hendrik sendiri?

Hendrik : Saya merasa kedua-duanya benar. Saya ingin mengikuti kedua-duanya.

Sampai di sini persoalan menjadi jelas bahwa Hendrik mengalami konflik internal. Pikiran sadarnya mengatakan bahwa ia orang awam maka ia ingin menikah dengan orang awam saja kemudian belajar agama bersama-sama. Oleh karena itu ia memutuskan berpacaran dengan embel-embel nggak pakai neko-neko. Tetapi akal bawah sadarnya mengajak mengikuti pendapat temannya yang sebenarnya juga sudah menjadi nilai yang diyakininya sendiri. Bahwa pacaran itu tidak boleh karena mendekati zina. Makanya Ia mencoba mengkompromikan keduanya sehingga memunculkan istilah "pacaran nggak pakai neko-neko".

Tetapi ini justru mengakibatkan pacarnya marah besar karena merasa tidak diperhatikan.  Di satu sisi Hendrik merasa khawatir kalau teman pengajiannya mengetahui bahwa ia berpacaran, namun di sisi yang lain, ia juga merasa takut kehilangan pacarnya. Pada puncak konflik internal tersebut munculah perasaan bersalah pada diri Hendrik, yang kemudian tanpa disadari, pikiran bawah sadarnya bergerak menghukum diri sendiri sebagai bentuk tindakan untuk menutupi perasaan bersalah itu. Hal itulah yeng menyebabkan Hendrik merasa memiliki penyakit disfungsi ereksi (DE) tiba-tiba.

Lantas, bagaimana Hendrik yang masih bujangan ini merasa yakin kalau dia memiliki masalah DE? Dalam sesi lanjutan terapi di atas, pertanyaan itu dijawab oleh Hendrik sendiri., dimana menurutnya ia tahu karena ia mengetes asumsinya sendiri dengan cara membayangkan pacarnya. Dan menurutnya hasilnya mengatakan kalau ia merasa “lemas-lemas” saja. Ini memperkuat keyakinannya bahwa ia memang menderita DE. Hendrik tidak sadar bahwa aktifitas tersebut justru membuat perasaan bersalahnya semakin menumpuk dan bawah sadarnya menghukum diri semakin kuat.

Teman-teman…poin yang ingin saya sampaikan di sini adalah pandai-pandailah berdamai dengan diri sendiri karena tidak ada peperangan yang paling melelahkan melainkan peperangan dengan diri sendiri. Perkuatlah pemahaman tentang sesuatu yang akan menjadi nilai kita. Waspadai konflik internal anda karena mungkin akan membawa anda pada efek yang tidak anda duga-duga.

Terus bagaimana dengan nasib Hendrik? Jangan khawatir.. setelah diketahui akar masalahnya maka proses penyembuhannya relatif lebih mudah. Dengan penggabungan beberapa teknik hypnoterapi yang tidak terlalu rumit maka sore harinya ia bisa pulang dengan wajah cerah dan optimis. Pesan saya juga cukup singkat, “Mas Hendrik… kembalilah ke kantor saya untuk urusan bisnis yang lain dan segeralah menikah!” *)
* Tulisan ini disajikan dari sudut pandang Hendrik dan tidak dimaksudkan untuk memberikan pendapat benar atau salahnya pendapat Hendrik.


Image
Budhi Hartanto, Pendiri, Trainer dan Terapis dari Mind Power Insitute Solo

Terakhir Diperbaharui pada Senin, 16 May 2011 14:44  

PRIVATE CLASS

Integrated Modern
Hypnotherapy Workshop

25 - 30 hours
Rp. 12.000.000,-

Rincian dan silabus
klik di sini

KONTAK:
WA: 0818150543
Phone: 0816972603

(Sampaikan bahwa anda
mendapat informasi
dari site ini)

 

Web Chat



Ingin mengundang kami sebagai nara sumber dalam setiap acara anda?
Atau...
untuk melakukan training di perusahaan anda?

  • Hypnosis for Selling or Marketing untuk meningkatkan penjualan perusahaan anda.
  • Memotivasi karyawan  untuk meningkatkan kinerja perusahaan.

Atau....
Ingin menjadi Event Organizer bagi pelatihan-pelatihan kami?
Terbuka bagi siapa saja (perorangan atau kelompok usaha) yang berminat untuk menjadi Event Organizer untuk modul-modul pelatihan yang dibawakan oleh NSK NUGROHO.

JIKA ANDA BERMINAT...  JUST CALL  US!!!

0186-972603 or 0818150543
or email:  nsknugroho@nsknugroho.com

*Karena banyaknya permintaan training di berbagai tempat dan perusahaan, maka kami beri kesempatan untuk menentukan jadwal pelaksanaan training bagi pihak yang telah melakukan Down Payment (sebesar minimal dua juta rupiah) terlebih dahulu.